Selasa, 23 Oktober 2012

Kota Metropolitan

           Metropolitan adalah istilah untuk menggambarkan suatu kawasan perkotaan yang relatif besar, baik dari ukuran luas wilayah, jumlah penduduk, maupun skala aktivitas ekonomi dan sosial. Secara etimogi (asal kata) kata metropolitan (kata benda) atau metropolis (kata sifat) berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu kata meter yang berarti ibu dan kata polis yang berari kota. (Wackerman, 2000). Pada masa itu, metropolitan memiliki makna sebagai “kota ibu” yang memiliki kota-kota satelit sebagai anak, namun dapat juga berarti pusat dari sebuah kota, sebuah kota negara (city-state), atau sebuah propinsi di kawasan Mediterania (Winarso, 2006).
Definisi kawasan metorpolitan yang relevan dalam konteks negara Indonesia, yaitu berdasarkan Undang-Undang Tahun 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Undang-Undang tersebut mendefinisikan kawasan metropolitan sebagai kawasan perkotaan yang terdiri atas sebuah kawasan perkotaan yang berdiri sendiri atau kawasan perkotaan inti dengan kawasan perkotaan di sekitarnya yang saling memiliki keterkaitan fungsional yang dihubungkan dengan sistem jaringan prasarana wilayah yang terintegrasi dengan jumlah penduduk secara keseluruhan sekurang-kurangnya 1.000.000 (satu juta) jiwa.
Secara umum, metropolitan dapat juga didefinisikan sebagai suatu pusat permukiman besar yang terdiri dari satu kota besar dan beberapa kawasan yang berada di sekitarnya dengan satu atau lebih kota besar melayani sebagai titik hubung (hub) dengan kota-kota di sekitarnya tersebut. Suatu kawasan metropolitan merupakan aglomerasi dari beberapa kawasan permukiman, tidak harus kawasan permukiman yang bersifat kota, namun secara keseluruhan membentuk suatu kesatuan dalam aktivitas bersifat kota dan bermuara pada pusat (kota besar yang merupakan inti) yang dapat dilihat dari aliran tenaga kerja dan aktivitas komersial.
Menurut Goheen (dalam Bourne, ed. 1971), Kota/ Distrik Metropolitan adalah kawasan perkotaan dengan karakteristik penduduk yang menonjol dibandingkan dengan penduduk pedesaan di sekitarnya. Istilah ini digunakan untuk memberikan gambaran yang lebih tepat mengenai besaran dan konsentrasi penduduk dalam wilayah yang luas, yang selanjutnya dapat menunjukkan besaran pusat-pusat permukiman yang utama di satu negara. Secara umum, kawasan metropolitan dapat didefinisikan sebagai yang besar, dengan kesatuan ekonomi dan sosial yang terpadu dan mencirikan aktivitas kota.
Menurut Wackerman (2000), kota metropolitan dapat dibedakan antara kota metropolitan internasional, nasional dan regional, dengan definisi sebagai berikut :
1.         Kota Metropolitan Internasional :

  • Memiliki populasi yang secara kualitataif aktivitasnya berada di tingkatinternasionaldan berada di jaringan perdagangan raksasa
  • Memiliki pelayanan tingkat internasional di bidang teknologi, konsultasi dan riset
  • Memiliki infrastruktur untuk penyelenggaraan aktivitas internasional seperti kongres, festival, dll
  • Memiliki komunitas tenaga kerja asing yang merepresentasikan perusahaan dan institusi multinasional yang jumlahnya cukup untuk mempengaruhi kehidupan lokal
  •  Memiliki citra internasional terutama dalam bidang pariwisata dan budaya

2.     Kota Metropolitan Nasional, dalam hal ini hampir seluruh kota metropolitan nasional memiliki kriteria seperti kota metropolitan internasional, Di negara-negara berkembang, kota-kota metropolitan secara umum adalah kota-kota yang sangat besar dari segi demografik (hingga mencapai jutaan jiwa) dan Kota-kota tersebut tidak selalu memiliki karakter kota metropolitan, namun sebagian telah masuk ke dalam proses internasionalisasi dan globalisasi
3.         Kota Metropolitan Regional :
  • Kota yang memilki peran besar dalam perekonomian negara Ibukota regional
  • Pusat pertumbuhan wilayah dan tempat berpusatnya sebagian besar pelayanan perkotaan
  •  Menjadi gerbang wilayah untuk berhubungan dengan wilayah lain di tingkat nasional dan internasional

       Berdasarkan definisi yang telah dikemukakan diatas, maka dapat disimpulkan  Ciri-ciri Metropolitan yang dari beberapa aspek antara lain besaran penduduk, kegiatan ekonomi, mobilitas aktivitas penduduk, dan struktur kawasan.
1.         Besaran jumlah penduduk
Besaran jumlah penduduk menjadi aspek pertimbangan utama dalam menentukan definisi suatu metropolitan. Namun, sejumlah pakar perkotaan menetapkan batas yang berbeda-beda untuk penetapan jumlah minimal penduduk kawasan metropolitan yaitu sebanyak 1.000.000 jiwa.
2.         Kegiatan ekonomi
Pada kawasan metropolitan terjadi aglomerasi kawasan permukiman dan lapangan pekerjaan. Dengan kata lain, kawasan metropolitan merupakan kawasan perkotaan dengan spesialisasi fungi aktivitas sosial ekonomi. Spesialisasi ekonomi tersebut merupakan sektor industri dan jasa. Proses spesialisasi di kawasan metropolitan terjadi karena selalu berkembangmya teknologi produksi, distribusi, dan komunikasi (Angotti, 1993 dalam Winarso et al, 2006). Kegiatan industri dan jasa merupakan sektor yang dominan berkembang di kawasan metropolitan. Kegiatan ekonomi yang berlangsung di kawasan metropolitan bersifat heterogen dan memiliki peran sebagai sentral/pusat kegiatan-kegiatan ekonomi dalam skala regional, baik dalam lingkup propinsi atau negara bagian maupun lingkup nasional.
Pertumbuhan dan perkembangan ekonomi perkotaan merupakan faktor pendorong terjadinya metropolitan dan akan terus berpengaruh terhadap prospek metropolitan di masa depan. Kenyataannya, metropolitan dimana saja mengemban fungsi ekonomi nasional yang sangat berarti sumbangannya bagi seluruh negara. Metropolitan dituntut mampu berperan dan berfungsi sesuai dengan bagiannya dalam pembangunan ekonomi nasional. Di sisi lain, peran ekonomi nasional metropolitan harus diimbangi dengan tingkat ekonomi yang sebanding dan mampu menberikan kehidupan yang layak bagi warga masyarakat metropolitan itu sendiri. Metropolitan harus mampu menciptakan lapangan kerja dan tingkat pendapatan yang memadai bagi masyarakatnya untuk dapat bertahan dan bahkan menikmati kehidupan di dalam lingkungan metropolitan. Tingkatan pendapatan di metropolitan umumnya jauh melebihi kota dan daerah lain seta pedesaan, dan menjadi daya tarik metropolitan bagi arus penduduk yang mencari kerja dan kehidupan yang layak. Tentunya harus diperhitungkan bahwa tingkat pengeluaran masyarakat metropolitan pada umumnya juga jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kota dan daerah lainnya.
3.         Mobilitas aktivitas penduduk
Salah satu ciri kawasan metropolitan ditunjukkan dalam bentuk kemudahan mobilitas yang menurut Angotti (1993) terlihat dalam 3 bentuk (Winarso et al, 2006), yaitu:
a.         Mobilitas pekerjaan (Employment mobility), dicirikan dengan mudahnya orang berpindah tempat kerja tanpa harus berpindah tempat tinggal karena banyaknya jenis dan variasi pekerjaan yang tersedia.
b.         Mobilitas Perumahan (Resdential Mobility), terjadi sejalan dengan mobilitas tempat kerja.
c.         Mobilitas Perjalanan (Trip Mobility), terjadi karena mobilitas tempat kerja dan tempat tinggal.
4.         Struktur Kawasan
Secara garis besar terdapat 2 macam bentuk fisik kota metropolitan yaitu bentuk metropolis menyebar (dispersed) dan bentuk metropolis memusat (concentrated). Untuk metropolis menyebar terdiri atas metropolis menyebar dan metropolis galaktika. Sedangkan untuk metropolis memusat terdiri atas metropolis memusat, metropolis bintang dan metropolis cincin (jayadinata, 1986 :221-226). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dibawah ini.
a.         Metropolis Menyebar
Metropolis menyebar terbentuk dengan mengembangkan pertumbuhan pada bagian. Kota paling jarang penduduknya dan bagian kota lama dibangun kembali dengan kepadatan penduduk yang lebih rendah, sehingga kota metropolitan itu akan cepat meluas. Prasarana sosial ekonomi dari pusat kota yang lama disebar, sehingga produksi pertanian dan bahan makanan, kantor, pabrik, museum, perguruan tinggi, rumah sakit, tersebar dimana-mana.
Kepadatan penduduk yang rendah dan kegiatan sosial ekonomi yang menyebar memerlukan memerlukan kendaraan pribadi dalam transportasi dan juga memerlukan komunikasi untuk menjembatani jarak seperti telepon, radio, televise, dinas pos, rumah sakit dan lain sebagainya yang tersebar dimana-mana.
 Gambar 2 Bentuk struktur kota metropolitan menyebar
http://imazu.wordpress.com/semua-tulisan/
b.        Metropolis Galaktika
Galaktika adalah susunan bintang di dalam semesat yang meliputi jutaan bintang. Metropolis galaktika terjadi dari permukiman kota yang kecil, berpenduduk rapat, dipisahkan sejauh beberapa kilometer oleh kawasan pertanian yang rendah sekali kepadatan penduduknya atau tidak berpenduduk, kegiatan sosial ekonomi terbagi menjadi berbagai unit kecil, arus lalu lintas menyebar tetapi kemudian akan memusat menuju permukiman atau menuju pusat kelompok permukiman kota.
Gambar 3 Bentuk struktur kota metropolitan galaktika

c.         Metropolis Memusat
Metropolis memusat memiliki karakteristik yaitu kegiatan sosial ekonomi yang tinggi mempunyai kepadatan penduduk yang tinggi, terutama dipusatnya karena kegiatan sosial ekonomi sangat tinggi, banyak penduduk yang tinggal di apartemen, rumah susun dan sebagainya. Sistem lalu lintas lebih khusus dengan berbagai model transportasi menurut jalur-jalur masing-masing, alat transportasi umum lebih diperlukan daripada kendaraan pribadi dan diperlukan juga jalan bebas kendaraan (pedestrian), jalan untuk pejalan kaki disamping jalan raya (sidewalks) dan sabuk luncur (flying belt).
Tingkat jangkauan sangat tinggi, baik ke berbagai kegiatan khusus maupun kea lam terbuka dan pedesaan dipinggir kota, kota sendiri sebagai tempat pertemuan secara periodic. Metropolis memusat seperti ini member dukungan yang kuat bagi masyarakat secara keseluruhan, tetapi partisipasi individu mendapat kesulitan dimana biaya hidup mungkin dapat lebih rendah karena mudahnya pelayanan dan transportasi yang efisien akibat penduduk yang banyak, tetapi terdapat suatu tingkatan tertentu dimana kepadatan penduduk yang sangat tinggi akan menyulitkan komunikasi antar penduduk.
Gambar 4 Bentuk struktur kota metropolitan memusat
http://imazu.wordpress.com/semua-tulisan/

d.        Metropolis Bintang
Metropolis bintang mempunyai pusat kota utama, dan pola keadatan penduduk pada wilayah pusat berbentuk bintang dengan perpanjangan beberapa bagian kota yang linear seperti lengan di alam terbuka. Inti kota utama sebagai pusat kota yang dikelilingi oleh banyak kota kedua yang terletak sepanjang lengan-lengan yang linear tersebut. Lengan-lengan kota metropolitan ini mempunyai kepadatan penduduk yang sedang, lebih tinggi daripada metropolis menyebar tetapi lebih rendah daripada di pusat-pusat.
Pertumbuhan dapat berlangsung ke luar dari lengan-lengan dan perubahan-perubahan dapat dilakukan dengan mudah karena kepadatan penduduk lebih rendah daripada di bagian inti utama serta tersedianya lahan pertanian (alam terbuka) dapat mendukung perkembangan kawasan linear tersebut.


Gambar 5 Bentuk struktur kota metropolitan bintang
http://imazu.wordpress.com/semua-tulisan/

e.         Metropolis Cincin
Dalam metropolis cincin kepadatan penduduk adalah sebaliknya, kawasan yang jarang penduduknya terdapat ditengah kota (pusat kota), sedangkan kepadatan yang tinggi terdapat disekeliling tengah kota sehingga bentuk ini menyerupai cincin.
Pergerakan lalu lintas utama juga berbentuk cincin, dimana melayani wilayah yang padat penduduknya, dan dibantu oleh beberapa jalur yang menuju ke pusat kota. Bentuk kota seperti ini banyak terdapat di negeri belanda, misalnya kota Haarlem, Amsterdam, Utrecht, Rotterdam dan sebagainya.

Gambar 6 Bentuk struktur kota metropolitan cincin
http://imazu.wordpress.com/semua-tulisan/



Tidak ada komentar:

Posting Komentar